Cerita Dewasa Bercinta Dengan Ibu Guru Pengaji

Download ITIL Online Review
Cerita Dewasa Bercinta Dengan Ibu Guru Pengaji - Namanya Caca tapi biasa di panggil Bu Caca . Umurnya kutaksir sekitar 35 tahunan. Meskipun tidak begitu muda namun cantik dan sexy mukanya selalu terlihat bersih. Wajahnya hanya dilapisi mik-up tipis dengan lips-gloss pada bibirmya serta farfum berwangi kembang selalu tercium dari tubuh Bu Caca . Maklum sudah berumur, badan Bu Caca sedikit gempal dan sepasang buah dadanya pun besar dan terlihat masih montok .

Cerita Dewasa Bercinta Dengan Ibu Guru Pengaji

Seperti biasa pagi itu Bu Caca datang ke rumahku untuk mengajar ngaji anakku. Aku pun mempersilahkannya masuk.

”Eh, dik Lan, anak-anak sama dik Wati ke mana?” Tanya Bu Caca .

”Iya bu saya minta maaf sama ibu karena lupa ngasih tahu kalau hari ini anak saya libur dulu soalnya ikut ibunya ke rumah saudara, bantu-bantu mau ada hajatan”. Jawabku.

“Oh begitu, nggak apa-apa, wah dik Lan bujangan lagi dong hari ini?” Kata Bu Caca sambil tersenyum tipis.

Aku hanya tersenyum menanggapinya, lalu aku tawarkan padanya minum, pertamanya sih dia menolaknya tapi setelah kutawarkan lagi akhirnya Bu Caca mau juga. Aku pun segera pergi ke dapur membuat minuman.

“Kopi aja yah, Bu Caca ” Tawarku.

”O, yah nggak apa-apa, apa aja deh”. Jawabnya.

Tapi tiba-tiba otak ku mulai memikirkan yang bukan-bukan, sewaktu aku ke dapur, Bu Caca duduk di atas sofa dan kulihat kain yang di pakai Bu Caca tersingkap menampakkan paha Bu Caca yang agak besar. Aku mencuri pandang sedikit sambil terus berjalan. Karena mataku asik memperhatikan paha Bu Caca aku tidak sadar kalau saat itu sudah dekat dinding dapur hingga kepalaku terbentur, ku gosok-gosok jidatku untuk menghilangkan sakit. Melihatku terantuk Bu Caca langsung bangun dan mendekatiku.

“Eh.. dik Lan.. kenapa?” Tanya Bu Caca .

Aku tak menjawab, sedangkan wajahku meringis menahan sakit.

“Ada apa sih dik Lan? Bu Caca bertanya lagi sambil tersenyum, mungkin lucu melihatku meringis, sedangkan tangannya diulurkan untuk memegang tanganku yang sedang menggosok-gosok jidat.

“Nggak apa-apa bu..,” Jawabku.

Setelah tahu jidatku tidak apa-apa Bu Caca tersenyum lagi lalu dilepaskan pegangan tangannya yang memegang pergelangan tanganku, dan aku terus ke dapur untuk menyiapkan minum untuk Bu Caca  dan sesudah siap kemudian ku hidangkan di meja tamu di depan Bu Caca.

”Kopinya di minum ya dik..” Kata Bu Caca sambil mengangkat gelas kopi lalu menghirupnya perlahan setelah meniup-niup permukaan air kopi agar tidak terlalu panas.

”Oh iya silahkan Bu..,” Aku mempersilahkan.

Saat itu nafsu seksku kembali naik ketika kuperhatikan lagi paha Bu Caca yang kembali tersibak, karena Bu Caca duduk persis dihadapanku, aku dapat melihat dengan jelas hingga ke celana dalamnya yang berwarna krem. Tapi lama-lama Bu Zila rupanya sadar, lalu dibetulkannya letak kain yang dipakainya sehingga pahanya tertutup.

“Wah.. dik Lan ini nggak boleh melihat pemandangan, matanya sampai nggak ngedip-ngedip.” Canda Bu Caca mengagetkanku.

”Ah Bu Caca bisa aja.” Elakku sambil cengar-cengir.

Nafsu seksku kian terbakar, otakku dipenusi fantasi seks dengan Bu Caca, bisa nggak yah aku ngedapetin wanita berusia 50 tahun ini, bisik hatiku bertanya. Ku coba mereka cara agar nafsuku terhadap Bu Caca dapat terlampiaskan . Aku memang sangat suka wanita yang sudah berumur seperti Bu Caca , bagiku mereka lebih seksi juga lebih memahami dan tidak egois dalam bermain sex.

“Er.. air kopi ni aja ke yang boleh hilangkan dahaga?” tanya aku dengan muka selamberr aja.

Kak Caca . tersentak sekejap.

“…maksud dik Lan? ”

”Eh.. mana ada maksud apa apa? Saya hanya bergurau saja..” kata aku.

Untuk kesekian kalinya, setelah Bu Caca menghirup kopi, diletakkannya gelas kopi di atas meja, tapi ketika itu Bu Caca lantas bangun. Aku diam saja, dalam hatiku bertanya Bu Caca mau ngapain yah?. Ku lihat Bu Caca berjalan menuju ke lemari dimana aku memajang benda-benda hiasan.

“Istri dik Lan cantik yah?, anaknya juga cakep” Katanya sambil mengamati fotret istrik dan anakku.

“Pasti dong bu, siapa dulu bapaknya” kata aku mencuba bercanda.

“Katanya istri dik Lan sedang mengandung anak kedua?” Tanya Bu Caca.

Aku mengiyakan.

“Sudah berapa bulan?”

“5 bulan Bu”.

“Wah, itu artinya air naik ke kepala dik lan?” Lanjut Bu Caca sambil memandangku.

“..Emmh, maksud ibu? ” Tanyaku tidak mengerti maksud perkataan Bu Caca.

”Nggak usah di terangin juga dik Lan nanti pasti ngerti, tadi kan dik Lan puas memandang selangkangan ibu memangnya ibu nggak tahu, udah gitu gaya dik Lan ini seperti orang yang tak puas saja” Serang Bu Caca .

“Tapi.., tadi itu saya, eu.. eh..,.. bukan.. anu..,” Kata ku tergagap tak tahu harus berkata apa untuk membela diri.

“Ya sudah dik Lan, tenang aja mungkin rezeki dik Lan bisa melihat paha ibu.” Kata Bu Caca sambil tersenyum aneh.

Aku bingung melihat sikap Bu Caca , hatiku bertanya-tanya apa sih maksud Bu Caca sebenarnya.

“Istri dik Lan perginya lama nggak?” Bu Caca bertanya.

“Sepertinya sih lama bu, soalnya dia pergi kerumah uwaknya, mau ada hajatan katanya, jadi ya.. bantu-bantu disana, malah mungkin nginap disana” Jawabku.

“Oh.. gitu.. toh” Kata Bu Caca.

Bu Caca lalu membalikan badannya dan berjalan menuju kembali ke sofa lalu di hempaskan badannya.

”..Ssshh, ahh.., panas banget yah, rasanya semua bagian badan ibu berkeringat nih..” Gumam Bu Caca, kemudian dibukanya kerudung yang dipakainya.
Aku hanya diam sambil memperhatikan saja.

“Apa Bu Caca mau mandi?, atau mau buka baju saja, silahkan saja bu” Kataku. Kuberanikan diri untuk mulai memancingnya ke arah situasi yang kuinginkan.

“Kalau iya gimana dik Lan, tapi tutup dulu dong gordennya nanti keliatan orang nggak enak.” Sambut Bu Caca sambil melihat ke arah gorden.

Entah perasaan apa yang kurasakan ketika itu, aku segera bangun, kutarik kain gorden sampai rapat sambil membelakangi Bu Caca . Samar-samar ku dengar bunyi resleting di buka, aku menoleh kebelakang, nampak Bu Caca sedang membuka kain bagian bawah yang di pakainya lalu melepasnya.

“Jangan berdiri saja dik Lan, kalau mau lihat, kesini dong biar dekat.” Goda Bu Caca.

Mendengar itu, segera ku dekati Bu Caca yang tengah menyandarkan dirinya atas sofa, dengan hanya memakai baju kurung tanpa kain bawah. Mata Bu Caca tampak dipejamkan sambil tangannya mengipas-ngipas badannya, sedangkan aku bermaksud kembali ketempatku semula, namun tiba-tiba Bu Caca menarik tangan aku saat aku melintas di depannya hingga badanku terhuyung mau jatuh di atas tubuhnya, kemudian tanpa ku duga Bu Caca lalu menarik ke atas baju kurung dia, dan terpampanglah bra yang menutupi buah dada Bu Zila yang besar. Mataku terbelalak melihatnya.

Dia kembali menyandarkan dirinya ke sofa, aku masih berdiri bingung di samping Bu Caca, kemudian bu Caca menarik pantatnya ke tepi sopa lantas bangun dan berdiri.

“Dik Lan, ibu mau ke kamar mandi, mau mandi biar segar.” Kata Bu Caca.

Aku mempersilahkannya, lalu berjalan di depannya untuk menunjukan kamar mandi. Tak lama, terdengar suara air jebar-jebur sepertinya Bu Caca sedang mandi, tiba-tiba ku dengar suara benda jatuh dari dalam kamar mandi.

“Kelumpanggggg!!!!!! Pang pang pang!!!!”

”Aduhhhhh……!” Suara Bu Caca menjerit.

Dengan tergopoh-gopoh ku dekati kamar mandi, tanganku mencoba mendorong pintu kamar mandi, ternyata tak dikunci, ku beranikan diri saja membuka pintu kamar mandi dan alangkah terkejutnya aku, nampak Bu Caca dengankeadaan tubuhnya yang telanjang bulat terduduk di lantai kamar mandi dengan kedua kaki mengangkang menampakkan memeknya yang di tumbuhi bulu agak lebat denan bibir memeknya sedikit tebuka, sedangkan sepasang buah dadanya yang besar tampak menggantung berguncang-guncang.

“Kenapa bu, apa yang terjadi.. bu?” Tanyaku khawatir.

“Ibu jatuh, kepeleset dik, lantainya kamar mandinya licin, aduhhhh.. pantat ibu sakit.” Kata Bu Caca  dengan suara menahan sakit.
Tanpa berkata-kata lagi segera ku raih dan ku bopong tubuh Bu Caca lalu memapahnya keluar dari kamar mandi dalam keadaan tubuhnya masih telanjang bulat, sambil tertatih-tatih ku papah Bu Caca  ke sofa lalu ku baringkan.

“Oh, yah ibu mau saya ambilkan baju ibu di kamar mandi?” Tanyaku.

“Nggak usahlah dik, lagian bukannya tubuh ibu sudah nggak ada lagi yang belum dilihat sama dik Lan kan?” Jawab Bu Caca.
Aku diam aja.

“Dik Lan… tolong dong urutin ini.” Pinta Bu Caca sambil menunjuk bagian belakang tubuhnya.

Aku mengganguk saja, Bu Caca kemudian membaringkan badannya di atas sofa sedangkan aku duduk di sampingnya sambil memijitkan tanganku ke tubuh Bu Caca . Pantat Bu Caca yang besar montok membuatku sangat bernafsu untuk meremas-remasnya, namun aku coba menahan diri kupikir belum waktunya.

Aku turutkan saja permintaan Bu Caca . Seperti saat Bu Caca memintaku mengurut bagian pinggangnya. Kulit Bu Caca terasa Lembut meski sudah tidak kencang lagi.

Semakin lama nafsuku semakin tinggi hingga aku menjadi sedikit liar dan nekad. Pijatanku kini sudah semakin ngaco dan hanya ku arahkan ke bagian-bagian tubuh Bu Caca yang menurutku menarik secara seksual. Pantat Bu Caca ku remas-remas sambil sesekali jariku sengaja ku sentuhkan ke memeknya. Kontolku semakin keras dan tegang saja. Hingga akhirnya aku tak kuat lagi menahan nafsu, kuciumi saja pantat Bi Caca dan ku panjangkan lidahku mencoba menjangkau memek Bu Lizah.

“Eh.., dik Lan, koq malah ke situ?” Tanya Bu Caca dengan suara perlahan.

Tak ku indahkan lagi pertanyaan Bu Caca , nafsuku sudah sangat tinggi, dengan liar ku jilati memek Bu Caca, ku kuakkan kaki Bu Caca hingga memek Bu Caca yang berjembut agak tebal itu tampak lebih lebih jelas lagi. Aku terus menurunkan lagi lidahku menikmati bahagian bawah memek Bu Caca  yang ternyata sudah basah oleh lendir, saat lidahku menyapu sekitar bibir Bu Caca , Bu Caca  terdengar mengeluh.

“..Mmmmmmmm.., sshh.., jilat yang dalam dik Lan..” Desah Bu Caca.

Aku pun menjilati memek Bu Caca dan sesekali mengigit kecil bibir memek serta itil Bu Caca.

Sambil menjilat, jari tangan ku ku masukan dan ku putar-putar di dalam lubang memek Bu Caca.

“..mmm.., aahh.., ayo masukin yang dalam jarinya, dik lan, nah ..sshh, aahhh.., putar-dik, ahhh..,” Racau Bu Caca semakin ghairah.
Nafsuku semakin tak terbendung lagi, kuminta Bu Caca untuk terlentang. Bu Caca lalu bangun dan menyandarkan tubuhnya ke sofa lalu kakinya mengangkang, muka ku langsung ku hujamkan ke memek Bu Caca . Bu Caca  memegang erat kepala aku sambil meramas ramas rambutku.

“..sssshh.., mmhh.., aahhhh..,” Badan Bu Caca sampai terhempas-hempas menikmati jilatan lidahku pada memek dan itilnya, sesekali ku gigit pelan sampai Bu Caca melenguh agak keras..

“Awwwww.., uiiih…, seperti itu.., yaaaa…, aahh.., ayo lagi dik Lan.” Lenguh Bu Caca lagi.

Sambil ku nikmati memeknya, tangan ku meremas-remas tetek Bu Caca yang menggantung bergantian, dan Bu Caca membongkokkan badannya untuk meraih kontolku, aku terus saja menjilat dan menghisap memek Bu Caca sampai aku rasakan seluruh badan Bu Caca bergeletar.

“Jilat dik Lan, Jilat semuanya,..ssshhh.., mmmmmmm.., yah..,”

Bu Caca mengangkat kepalaku sambil tersenyum dia berkata..,

“Ayo dik Lan, biar ibu udah tua tapi memek ibu masih legit koq..,” Kata Bu Caca sambil memegang dan menepuk-nepuk memeknya.

Aku senyum, tanganku ku usap-usapkan ke permukaan memek Bu Caca , jembutnya ku tarik pelan-pelan.

“Sekarang gantian, ibu pengen ngelihat punya dik Lan.” Pinta Bu Caca.

Aku bangun dan berdiri didepan Bu Caca, ku lepas celanaku, dan tersembulah kontolku yang sudah mengacung keras itu. Melihat itu Bu Caca tersenyum.

“Ini kalau ibu jilatin sebentar juga pasti keluar” Kata Bu Caca tersenyum.

Aku tak menanggapinya, Bu Caca lalu mendekatkan wajahnya ke kontolku dan mulutnya meraih kontolku, setelah terlebih dahulu lidahnya menjilati. Kontolku terasa hangat ketika Bu Caca memasukannya ke dalam mulutnya.

Kontolku lalu dihisap-hisapnya dengan gerak maju mundur.

“mmmmph….. mmmmmppphh” Bunyi mulut Bu Caca ketika menghisap kontolku yang bercampur air liurnya. Bu Caca juga kemudian mengulum pula buah zakar ku.

Sesekali Bu Caca memasukkan seluruh batang kontolku kedalam mulutnya dan pada bagian inilah yang aku sangat tak tahan.

“..mmmhhhh…, oohh.., Bu Caca terus bu” Aku mengeluh enak sambil ku pegang erat kepala Bu Caca, waktu kurasakan air maniku tak dapaat ku tahankan lagi.

”..aahh.., bu saya keluar bu” Erangku.

Air maniku pun muncrat di dalam mulut Bu Caca yang terus saja menghisapi kontolku sambil memainkan lidahnya mengulas-ulas kepala kontolku.

Bu Caca tetap memegangi kontolku yang mulai mengecil. Aku terus duduk di sebelah Bu Caca.
“Wah nggak nyangka ibu pinter banget ngisep..,” Kata ku memuji.

“Iya dong dik Lan, soalnya lelaki itu sebenarnya banyak yang lebih suka itunya di hisap dan dijilati, perempuan juga sama banyak yang lebih suka barangnya dijilati saja.

Sebab tidak menguras tenaga. Pastinya, kalau lelaki pandai membuat perempuan itu puas secara begini, perempuan akan dapat melayani kembali lelaki itu dengan sempurna.” Bu Caca menerangkan.

”Ibu memang sangat suka ngewe, tapi kalau ngewe tapi akhirnya tak puas buat apa? Mending usaha sendiri aja sampai puas.” Kata dia lagi sambil meremas-remas kontolku yang perlahan mulai mengeras.

”Hah .. Macam dik Lan ni,, batang dahlah boleh tahan.. besar.. panjangnya cukup.. dan air pulak banyak.. puaslah perempuan tu.. tapi kalau dik lan tak reti.. susahlah nanti. Syok Sendiri.” kata dia lagi. Aku pun dah mula nak meara main cipap Kak Zi pula.

“Dik lan, memek ibu memang sudah agak longgar sedikit, maklum aja ibu kan sudah tua, makanya dik Lan harus menusukkan kontolnya keras.” Kata Bu Caca.

”Tenang saja bu soal tusuk menusuk sih rasanya saya sanggup.” Kataku sambil tersenyum.
Bu Caca lantas menyandar kembali di atas sofa dan mengangkangkan kakinya, memeknya terlihat sudah basah.

”Ayo Dik Lan masukin kontolmu cepat.” Pinta Bu Caca.

Aku pun tanpa menunggu lagi segera saja memasukkan kontolku kedalam memek Bu Caca , ku hentak dengan sekuat hati.

“Aww.., aduuhh., ayo hentak lagi dik Lan, puaskan ibu…” Bu Caca mengerang.

”Dik Lan coba goyangin sedikit kontolnya deh, biar memek ibu semua ngerasain.” Kata Bu Caca .

Ku ikuti permintaannya, sambil mendorong koputar kontolku bahkan seperti hendak menyungkit isi memek Bu Caca keluar.

Gerakan ku menusuk-nusukan ****** kulakukan dengan simultan, aku juga meremas-ramas tetek Bu Caca sambil tetap ku hetakan kontoku kedalamnya.

Ku rasakan Bu Caca mengemut-ngemutkan memeknya hingga kontolku serasa di remas-remas nikmat. Aku dan Bu Caca kemudian berganti posisi, Bu Caca memutar badannya supaya aku menusuknya dari belakang.

“..aahh, ..oohhh, ..aaahh, …oohhh, …mmmhhh. ..” Bu Caca mengeluh keenakan.
Hingga beberapa saat kemudian,

“Aaaahh.., sshh…..” Bu Caca mendesah-desah disertai gerakan tubuhnya yang semakin liar sepertinya Bu Caca klimaks.

Aku segera mencabut kontolku dari lobang memek Bu Caca yang ternyata di fahami oleh Bu Caca dengan memutar badannya dan disongsongnya kontolku dengan mulutnya. Dan dihisap-hisapnya kontolku lagi, hingga akhirnya kurasakan cairan kenikmatan menjalari kontolku, kenikmatan itu bertambah dengan hisapan yang di lakukan Bu Caca memberi sensasi seks yang berbeda yang tentunya lebih dahsyat karena spermaku seakan-akan disedot keluar oleh mulut Bu Caca . Tubuhku mengejang sedangkan tanganku sibuk mempermainkan sepasang tetek Bu Caca , merasakan kenikmatan itu sampai tetes terahir.

Setelah aku dan Bu Caca sama-sama terdiam beberapa saat, Bu Caca lalu beringsut kemudian berjalan ke kamar mandi. Ku dengar air mencebok, sepertinya Bu Caca sedang membersihkan memeknya. Bu Caca keluar dari kamar mandi sudah dengan memakai celana dalamnya tanpa BH karena Bhnya dan juga pakaiannya di bawa di tangannya sehingga tetek Bu Caca tampak berayun-ayun mengikuti gerak jalan Bu Caca . Ketika ku perhatikan teteknya Bu Caca tampak tanda merah yang secara nggak sadar ku buat ketika ngewe dengan Bu Caca tadi.

Bu Caca tersenyum kecil saja ketika melihat ku, dipakainya kembali pakaiannya. Dia kemudian mengenakan kerudungnya dan kembali ke sofa.

Aku yang masih bertelanjang bulat santai saja tiduran di sofa. Bu Caca lalu duduk di sampingku, dipegangnya kontolku yang sudah layu itu dan di remas-remasnya hingga keras dan tegang lagi.

“Wah, dik Lan mau lagi ya?, ininya keras lagi nih.” Goda Bu Caca sambil tersenyum.

Aku Tak menjawabnya hanya tersenyum sambil mengedipkan mata. Bu Caca mengangsurkan mukanya mendekati kontolku dan mulutnya menggapai kontolku untuk kemudian dihisapnya lagi.

”Dik Lan kita main sekali lagi yah..,” Ajak Bu Caca kepadaku.

Langsung ku anggungkan kepalaku, karena memang itu yang aku maui apa lagi setelah kontolku di sepongnya tadi nafsuku bangkit lagi.

Aku dan Bu Caca akhirnya ngewe lagi kali ni Bu Caca masih memakai kerudungnya membuatku semakin bernafsu mengewenya.

Akhirnya setelah merapikan lagi pakaian dan kerudung yang di pakainya, Bu Caca pamit, dia bilang mau pergi mengajar lagi satu di rumah. Aku mengenakan celanaku dan kubukakan pintu untuk Bu Caca , dia tersenyum melirikku sambil memakai sepatunya.

”Istirahat dulu ya dik, biar lebih segar makan telur setengah matang 2 butir dan minum air dicampur madu.” Pesan Bu Caca sambil berbisik.

“Kalau dik Lan kepengen lagi, kasih tahu ibu yah, atau talepon dulu” Lanjut Bu Caca.

”Baik bu..,” Jawabku sambil meremas pantat Bu Caca yang gempal..

Hubungan ku dengan Bu Caca terus berlangsung hingga kini, kapan pun aku mau ngewe dengan Bu Caca aku tinggal meneleponnya, dan Bu Caca tak pernah menolaknya, karena biar pun Bu Caca sudah tua ternyata nafsu seksnya masih tetap tinggi.

bandar sakong terpercaya
Itil Video Tutorial