Cerita sex Nikmat Dan Derita Diatas Meja Judi

Download ITIL Online Review
Cerita Seks Bergambar, Cerita Sex Dewasa, Cerita Ngentot Terbaru - Masalah di dunia ini seakan tak pernah ada habisnya, Bella, wanita berusia 30 tahun hampir saja putus asa dalem menjalani hidupnya di dunia. Swaminya, Berto, justru menjadikannya seseperti seorang gundik murahan. Ia tak pernah menygka apabila Mas Berto sampai hati menjual dirinya.

Cerita sex Nikmat Dan Derita Diatas Meja Judi

Sewaktu pertama kali berkenalan, Berto adalah lelaki yg baik dan selalu menjaga ku dari berseperti godaan lelaki lelaki iseng. Kami menikah lima tahun yg lalu dan sudah dikarunai seorang anak lelaki dan sekarang berusia tiga tahun yang kami beri nama Bernard. Pernikahan kami mulus-mulus saja sampai Bernard muncul diantara kami. Tentu saja waktuku banyak terkuras untuk mendidik Bernard.

Mas Berto berkerja di perusahaan swasta yg bergerak dibidang produksi perkayuan, sedangkan aqu cuma tinggal di rumah. Akan tetapi aqu tak pernah mengeluh. Aqu tetap sabar menjalankan tugasku seseperti ibu rumah tangga sebaik-baiknya. Meskipun kenyataannya setiap hari bisa saja Mas Berto pulang sore hari. Tetapi belakangan ini dia selalu pulang terlambat. Bahkan sampai larut malam dan dalam kondisi mabuk.

Pernah sewaktu kutanyakan, kemana saja kalo pulang terlambat. Dia cuma menjawab

“Aqu mencari penghasilan tambahan Bell”, jawabnya singkat dan acuh.

Mas Berto makin sering pulang larut malam, bahkan pernah satu kali dia pulang dgn mulut berbau alkohol, dan hampir tak sadarkan diri, ternyata dia mabuk sangat berat. Aqu mulai bertanya-tanya, sejak kapan swamiku mulai gemar minum-minum beralkohol. Selama ini aqu tak pernah melihatnya sampai seperti ini. Kadang-kadang ia juga memberikan uang belanja lebih padaqu. Atao pulang dgn membawa oleh-oleh untuk aqu dan Bernard anak kami. Setiap kali aqu menyinggung kegiatannya yang di luar batas, Mas Berto berusaha menghindari.

“Kita jalankan saja peran masing-masing yg seperti biasanya. Aqu cari uang dan kamu yg mengurus rumah juga Bernard. Aqu tak pernah menanyakan pekerjaanmu, jadi lebih baik kamu juga sperti itu”, katanya.

Aqu baru bisa menerka-nerka apa aktivitasnya sewaktu suatu malam, dia memintaqu untuk menjual gelang yg kukenakan. Ia mengaqu kalah bermain judi dgn seseorang dan perlu uang untuk menutupi utang atas kekalahannya, jadi itu yg dilaqukannya selama ini. Seseperti seorang isteri yg berusaha berbakti kepada swami, aqu memberikan gelang itu. Toh dia juga yg membelikan gelang tersebut. Aqu memang diajarkan untuk menemani swami dalem suka maupun duka.

Suatu sore saat Mas Berto belum pulang, seorang kawannya yg mengaqu bernama Su’eng berkunjung ke rumah. Kedatangan Su’eng inilah yg memicu perubahan dalem rumah tanggaku. Su’eng datang untuk menagih utang-utang swamiku kepadanya. Jumlahnya sekitar sepuluh juta rupiah. Mas Berto berjanji untuk melunasi utangnya itu. Aqu berkata terus-terang bahwa aqu tak tahu-menahu mengenai utang itu, kemudian aqu menyuruhnya untuk kembali besok saja.

Tetapi dgn pandangan nakal dia tersenyum,

“Lebih baik saya menunggu saja Mbak, itung-itung juga menemani Mbak.”

Aqu sedikit risih mendengar ucapannya itu, lebih-lebih sewaktu melihat tatapan liar matanya yg seakan-akan ingin menelanjangi diriku.

“Berto tak pernah cerita kepada saya, kalo ia memiliki isteri yg luar biasa cantiknya. Menurut saya, sayg sekali bunga yg indah cuma dipajang di rumah saja” ucap Su’eng.

Aqu makin kaku hati mendengar ucapan rayuan-rayuan gombalnya itu, Tetapi aqu mencoba menahan diri, kerana aku menyadari Mas Berto berutang uang kepadanya. Dalem hati aqu berdoa supaya Mas Berto cepat pulang ke rumah, sehingga aqu tak perlu berlama-lama menemuinya.

Untung saja tak lama kemudian Mas Berto pulang. Kalo tidak pasti aqu sudah muntah mendengar kata-katanya itu. Begitu melihat Su’eng, Mas Berto terlihat lemas. Dia tahu pasti Su’eng akan menagih hutang-hutangnya itu. Aqu meninggalkan mereka di ruang tamu, Mas Berto kulihat menyerahkan amplop coklat. Mungkin Mas Berto sudah bisa melunasi hutangnya. Aqu tak dapat mendengar pembicaraannya, tetapi kulihat Mas Berto menunduk dan sesekali terlihat berusaha menyabarkan kawannya itu.

Sesudah Su’eng pulang, Mas Berto memintaqu menyiapkan makan malam. Dia menikmati sajian makan malam tanpa banyak bicara, Aqu juga menanyakan apa saja yg dibicarakannya dgn Su’eng. Aqu menyadari Mas Berto sedang suntuk, jadi lebih baik aqu menahan diri sehingga tak menimbulkan masalah baru. Sesudah selesai makan, Mas Berto langsung mandi dan masuk ke kamar tidur, aqu menyusul masuk kamar satu jam kemudian sesudah berhasil menidurkan Bernard di kamarnya.

Sewaktu aqu memasuki kamar tidur dan menemaninya di ranjang, Mas Berto kemudian memelukku dan menciumku. Aqu tahu dia akan meminta ‘jatahnya’ malam ini. Malam ini dia lain sekali sentuhannya lembut. Pelan-pelan Mas Berto mulai melepaskan baju terusan putih yg kukenakan, sesudah mencumbuiku sejenak, Mas Berto mulai membuka bra tipis yg kukenakan dan melepaskan celana dalemku.

Sesudah itu Mas Berto sedikit demi sedikit mulai menikmati jengkal demi jengkal seluruh bagian badanku, tak ada yg terlewati. Kemudian aqu membantu Mas Berto untuk melapaskan seluruh pakaian yg dikenakannya, sampai akhirnya aqu bisa melihat kemaluan Mas Berto yg sudah mulai sedikit menegang, tetapi belum sempurna tegangnya.

Dgn penuh kasih sayg kuraih gagang kenikmatan Mas Berto, kumain-mainkan sejenak dgn kedua belah tanganku, kemudian aqu mulai mengulum gagang kemaluan swamiku dgn lembutnya. Terasa di dalem mulutku, gagang kemaluan Mas Berto terutama kepala kemaluannya, mulai terasa hangat dan mengeras. Aqu menyedot gagang Mas Berto semampuku, kulihat Mas Berto begitu bergairah, sesekali matanya terpejam menahan nikmat yg kuberikan kepadanya.

Mas Berto kemudian membalas, dgn meremas-remas kedua buah dadaqu yg cukup menantang, 36B. Aqu mulai merasakan denyut-denyut kenikmatan mulai bergerak dari puting buah dadaqu dan mulai menjalar keseluruh bagian badanku lainnya, terutama ke kemaluanqu. Aqu merasakan lubang kemaluanqu mulai terasa basah dan sedikit gatal, sehingga aqu mulai merapatkan kedua belah pahaqu dan menggesek-gesekan kedua belah pahaqu dgn rapatnya, supaya aqu dapat mengurangi rasa gatal yg kurasakan di belahan lubang kemaluanqu.

Mas Berto ternyata tanggap melihat perubahanku, kemudian dgn lidahnya Mas Berto mulai turun dan mulai mengulum daging kecil clitorisku dgn napsunya, Aqu sangat kewalahan menerima serangannya ini, badanku terasa bergetar menahan nikmat, peluh dibadanku mulai mengucur dgn deras diiringi erangan-erangan kecil dan napas tertahan sewaktu kurasakan aqu hampir tak mampu menahan kenikmatan yg kurasakan.

Akhirnya seluruh rasa nikmat semakin memuncak, saat kemaluan Mas Berto, mulai terbenam sedikit demi sedikit ke dalem kemaluanqu, rasa gatal yg kurasakan sejak tadi berubah menjadi nikmat saat kemaluan Mas Berto yg sudah ereksi sempurna mulai bergerak-gerak maju mundur, seakan-akan menggaruk-garuk gatal yg kurasakan.

Swamiku memang jago dalem permainan ini. Tak lebih dari lima belas menit aqu berteriak kecil saat aqu sudah tak mampu lagi menahan kenikmatan yg kurasakan, badanku meregang sekian detik dan akhirnya rubuh di ranjang sewaktu puncak-puncak kenikamatan kuraih pada saat itu, mataqu terpejam sembari menggigit kecil bibirku saat kurasakan kemaluanqu mengeluarkan denyut-denyut kenikmatannya.

Dan tak lama kemudian Mas Berto mencapai puncaknya juga, dia dgn cepatnya menarik kemaluannya dan beberapa detik kemudian, air maninya tersembur dgn derasnya ke arah badan dan wajahku, aqu membantunya dgn mengocok kemaluannya sampai air maninya habis, dan kemudian aqu mengulum kembali kemaluannya sekian lama, sampai akhirnya perlahan-lahan mulai mengurang tegangannya dan mulai lunglai.

“Aqu benar-benar puas Bell, kamu memang hebat”, pujinya. Aqu masih bergelayut manja di dekapan badannya.

“Bell, kamu memang isteriku yg baik, kamu harus bisa mengerti kesulitanku saat ini, dan aqu mau kamu membantu aqu untuk mengatasinya”, katanya.

“Bukankah selama ini aqu sudah begitu Mas”, sahutku. Mas Berto mengangguk-angguk mendengarkan ucapakanku.

Kemudian ia melanjutkan,

“Kamu tahu maksud kedatangan Su’eng tadi sore. Dia menagih utang, dan aqu cuma sanggup membayar setengah dari keseluruhan utangku. Kemudian sesudah lama berbicang-bincang ia menawarkan sebuah jalan keluar kepadaqu untuk melunasi hutang-hutangku dgn sebuah syarat”, ucap Mas Berto.

“Apa syaratnya, Mas?” tanyaqu penasaran.

“Ternyata dia menyukaimu, dia minta izinku supaya kamu bisa menemani dia semalam saja”, ucap Mas Berto dgn pelan dan tertahan.

Aqu seperti disambar petir saat itu, aqu tahu arti ‘menemani’ selama semalam. Itu berarti aqu harus melayaninya semalam di ranjang seperti yg kulaqukan pada Mas Berto. Mas Berto mengerti keterkejutanku.

“Aqu sudah tak tahu lagi dgn apalagi aqu harus membayar hutang-hutangku, dia sudah mengancam akan menagih lewat tukang-tukang pukulnya jika aqu tak bisa membayarnya sampai akhir pekan ini”, katanya lirih.

Aqu cuma terdiam tak mampu mengomentari perkataannya itu. Aqu masih shock memikirkan aqu harus rela memberikan seluruh badanku kepada lelaki yg belum kukenal selama ini. Sikap diamku ini diartikan lain oleh Mas Berto.

“Besok kamu ikut aqu menemui Su’eng”, ucapnya lagi, sembari mencium keningku lalu berangkat tidur. Sesewaktu itu juga aqu membenci swamiku. Aqu enggan mengikuti keinginan swamiku ini, tetapi aqu juga harus memikirkan keselamatan keluarga, terutama keselamatan swamiku. Mungkin sesudah ini ia akan kapok berjudi lagi pikirku.

Sore hari sesudah pulang kerja, Mas Berto menyuruhku berhias diri dan sesudah itu kami berangkat menuju tempat yg dijanjikan sebelumnya, ternyata Mas Berto mengantarku ke sebuah hotel berbintang. Sewaktu itu waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 20.00 malam. Selama hidup baru pertama kali ini, aqu pergi untuk menginap di hotel.

Sewaktu pintu kamar di ketuk oleh Mas Berto, beberapa saat kemudian pintu kamar terbuka, dan kulihat Su’eng menyambut kami dgn hangatnya, Swamiku tak berlama-lama, kemudian ia menyerahkan diriku kepada Su’eng, dan kemudian berpamitan.

Dgn lembut Su’eng menarik tanganku memasuki ruangan kamar itu. Aqu tertunduk malu dan wajahku terasa memerah saat aqu merasakan tanganku dijamah oleh seseorang yg bukan swamiku. Ternyata Su’eng tak seburuk yg kubaygkan, memang matanya terkesan liar dan seakan mau melahap seluruh badanku, tetapi sikapnya dan perlaquannya kepadaqu tetap tenang, sehingga dikit demi sedikit rasa grogi yg menyerangku mulai memudar.

Su’eng menanyakan dgn lembut, aqu ingin minum apa. Kusahut aqu ingin minum coca-cola, tetapi jawabnya minuman itu tak ada sekarang ini di kamarnya, kemudian dia mengeluarkan sebotol sampagne dari kulkas dan menuangkannya sedikit sekitar setengah sloki, kemudian disuguhkannya kepadaqu,

“Ini bisa menghilangkan sedikit rasa gugup yg kamu rasakan sekarang ini, dan bisa juga membuat badanmu sedikit hangat. Kulihat dari tadi kelihatannya kamu sedikit kedinginan”, ucapnya lagi sembari menyodorkan minuman tersebut.

Kuraih minuman tersebut, dan mulai kuminum secara dikit demi sedikit sampai habis, memang benar beberapa saat kemudian aqu merasakan badan dan pikiranku sedikit tenang, rasa gorgi sudah mulai menghilang, dan aqu juga merasakan ada aliran hangat yg mengaliri seluruh syaraf-syaraf badanku.

Su’eng kemudian menyetel lagu-lagu lembut di kamarnya, dan mengajakku berbincang-bincang hal-hal yg ringan. Sekitar 10 menit kami berbicara, aqu mulai merasakan sedikit pusing di kepalaqu, badankupun limlung. Kemudian Su’eng merebahkan badanku ke ranjang. Beberapa menit aqu rebahan di atas ranjang membuatku mulai bisa menghilangkan rasa pusing di kepalaqu.

Tetapi aqu mulai merasakan ada perasaan lain yg mengalir pada diriku, ada perasaan denyut-denyut kecil di seluruh badanku, semakin lama denyut-denyut tersebut mulai terasa menguat, terutama di bagian-bagian sensitifku. Aqu merasakan badanku mulai terangsang, meskipun Su’eng belum menjamah badanku.

Sewaktu aqu mulai tak kuasa lagi menahan rangsangan di badanku, nafasku mulai memburu terengah-engah, buah dadaqu seakan-akan mengeras dan benar-benar peka, kemaluanqu mulai terasa basah dan gatal yg menyengat, perlahan-lahan aqu mulai menggesek-gesekkan kedua belah pahaqu untuk mengurangi rasa gatal dan merangsang di dalem kemaluanqu. Badanku mulai menggeliat-geliat tak tahan merasakan rangsangan seluruh badanku.

Su’eng ternyata menikmati tontonan ini, dia memandangi kecantikan wajahku yg kini sedang terengah-engah bertarung melawan rangsangan, napsunya mulai memanas, tangannya mulai meraba badanku tanpa bisa kuhalangi lagi. Remasan-remasan tangannya di buah dadaqu membuatku tak tahan lagi, sampai tak sadar aqu melorotkan sendiri pakaian yg kukenakan. Saat pakaian yg kukenakan lepas, Mata Su’eng tak lepas memandangi belahan buah dadaqu yg putih montok dan yg menyembul dan seakan ingin loncat keluar dari bra yg kukenakan.

Tak tahan melihat pemandangan indah ini, Su’eng kemudian menggumuliku dgn panasnya sembari tangannya mengarah ke belakang punggungku, tak lebih dari 3 detik, kancing bra-ku sudah lepas, kini buah dadaqu yg kencang dan padat sudah membentang dgn indahnya, Su’eng tak mau berlama-lama memandangiku, dgn buasnya lagi ia mencumbuiku, menggumuliku, dan tangannya semakin cepat meremas-remas buah dadaqu, cairan kemaluanqu mulai membasahi celana putihku.

Melihat ini, tangan Su’eng yg sebelahnya lagi mulai bermain-main di celanaqu tepat di cairan yg membasahi celanaqu, aqu merasakan nikmat yg benar-benar luar biasa. Napasku benar-benar memburu, mataqu terpejam nikmat saat tangan Su’eng mulai memasuki celana dalemku dan memainkan daging kecil yg tersembunyi di kedua belahan rapatnya kemaluanqu.

Su’eng memainkan kemaluanqu dgn ahlinya, membuatku terpaksa merapatkan kedua belah pahaqu untuk sedikit menetralisir serangan-serangannya, jari-jarinya yg nakal mulai menerobos masuk ke lubang badanku dan mulai memutar-mutar jarinya di dalem kemaluanqu. Tak puas kerana celana dalemku sedikit mengganggu, dgn cepatnya sekali gerakan dia melepaskan celana dalemku. Aqu kini benar-benar bugil tanpa tersisa pakaian di badanku.

Su’eng tertegun sejenak memandangi pesona badanku, yg masih bergeliat-geliat melawan rangsangan yg mungkin diakibatkan obat perangsang yg disuguhkan di dalem minumanku. Dgn cepatnya selagi aqu masih merangsang sendiri buah dadaqu, Su’eng melepaskan dgn cepat seluruh pakaian yg dikenakan sampai akhirnya bugil pula. Aqu semakin bernapsu melihat gagang kemaluan Su’eng sudah berdiri tegak dgn kerasnya, Besar dan panjang.

Dgn cepat Su’eng kembali menggumuliku dgn benar-benar sama-sama dalem puncak terangsang, aqu merasakan buah dadaqu diserang dgn remasan-remasan panas, dan.., ahh.., aqupun merasakan gagang kemaluan Su’eng dgn cepatnya menyeruak menembus lubang kemaluanqu dan menyentuh titik-titik kenikmatan yg ada di dalem lubang kemaluanqu, aqu menjerit-jerit tertahan dan membalas serangan kemaluannya dgn menjepitkan kedua belah kakiku ke arah punggungnya sehingga kemaluannya bisa menerobos secara maksimal ke dalem kemaluanqu.

Kami bercumbu dgn panasnya, bergumul, setiap kali kemaluan Su’eng mulai bergerak masuk menerobos masuk ataopun saat menarik ke arah luar, aqu menjepitkan otot-otot kemaluanqu seperti hendak menahan pipis, saat itu aqu merasakan nikmat yg kurasakan berlipat-lipat kali nikmatnya, begitu juga dgn Su’eng, dia mulai keteteran menahan kenikmatan tak bisa dihindarinya. Sampai pada satu titik saya sudah terlihat akan klimaks, Su’eng tak menyia-nyiakan kesempatan itu, dgn hentakan2 kemaluannya yg dipercerpat.. akhirnya kekuatan pertahananku ambrol.. saya klimaks berulang-ulang dalem waktu 10 detik.. Su’eng ternyata juga sudah tak mampu menahan lagi serangannya dia cuma diam sejenak untuk merasakan kenikmatan dipuncak-puncak klimaksnya dan beberapa detik kemudian mencabut gagang kemaluannya dan tersemburlan muncratan-muncratan spermanya dgn banyaknya membanjiri wajah dan sebagian berlelehan di belahan buah dadaqu. Kamipun akhirnya tidur kelelahan sesudah bergumul dalem panasnya birahi.

Keesokan paginya, Su’eng mengantarku pulang ke rumah. Kulihat swamiku menerimaqu dgn muka tertuduk dan berbicara sejenak sementara aqu masuk ke kamar anakku untuk melihatnya sesudah seharian tak kuurus.

Sesudah kejadian itu, aqu dan swamiku sempat tak berbicara satu sama-lain, sampai akhirnya aqu luluh juga saat swamiku minta maaf atas kelaquannya yg menyebabkan masalah ini sampai terjadi, tetapi hal itu tak berlangsung lama, swamiku kembali terjebak dalem permainan judi. Sehingga secara tak langsung aqulah yg menjadi taruhan di meja judi. Jika menang swamiku akan memberikan oleh-oleh yg banyak kepada kami. Tetapi jika kalah aqu harus rela melayani kawan-kawan swamiku yg menang judi. Sampai saat ini kejadian ini tetap masih berulang. Oh sampai kapankah penderitaan ini akan berakhir.
Itil Video Tutorial