Kumpulan Cerita Sex Lesby Terbaru

Download ITIL Online Review
Baiklah kembali admin posting dari ceritasexdewasa18.com mempostingkan artikel kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita mesum terbaru, cerita terpanas perselingkuhan, cerita pemerkosaan abg, cerita tante girang, namun kali ini adalah ceritanya adalah Kumpulan Cerita Sex Lesby Terbaru, semoga menjadi nikmat. Sampai sekarang Emil belum paham dengan kehidupan lesbian. Baginya kehidupan penyuka sesama jenis itu aneh. Emil bukan lesbi tulen. Dia masih suka laki-laki. Namun Emil masih suka dengan keindahan tubuh wanita seksi yang menggugah gairahnya untuk bercinta dengannya. Malam itu suasana Taman Bungkul sangat ramai. Maklum, sekarang malam minggu. Waktunya bagi para ABG-ABG melepas penat. Mereka berkumpul, berkelompok.

Kumpulan Cerita Sex Lesby Terbaru
 Kumpulan Cerita Sex Lesby Terbaru

Warung-warung tak sepi pengunjung. Banyak pengunjung yang datang di kawasan wisata religi tersebut. Yang ingin melepas penat datang untuk duduk-duduk di warung dan sekitar taman. Yang ingin berziarah dapat langsung masuk ke dalam kawasan Taman Bungkul. Halaman parkir pun dijubeli motor dan mobil. Kontan suasana di areal tersebut penuh sesak.

Malam itu yang perempuan tampil dengan sangat cantik, yang laki-laki pun demikian. Entah siapa akan memacari siapa. Yang punya pacar pastinya tidak akan kebingungan.

Usai disulap menjadi taman wisata keluarga oleh Pemkot Surabaya, Taman Bungkul sekarang berubah penampilannya. Banyak orang mulai berdatangan. Dari sekedar melepas penat, beristirahat, hingga bersenang-senang.

Di antara sekian banyak orang, malam itu SICOM sempat bertemu dengan salah satu kelompok perempuan yang mengatasnamakan: LESBIAN.

Salah satu dari mereka mendekat. Sebut saja Emil, bukan nama sebenarnya. Emil memiliki penampilan layaknya perempuan. Ia cantik, manis, dan bahenol. Tubuhnya bongsor. Tingginya sekitar 165 cm. Kulitnya sawo matang. Matanya sayu. Hidungnya sedikit mancung. Rambut Emil panjang dan berombak. Setidaknya ia berbeda dengan teman-teman wanitanya. Diantata teman-temannya, ada beberapa perempuan yang berpenampilan seperti laki-laki. Rambut pendek. Mengenakan pakaian laki-laki. Gaya dan penampilannya pun mirip laki-laki.

“Itu Buchi!” Kata Emil menunjukkan teman-temannya.

Apa itu Buchi?

Emil pun menjelaskan, jika seorang Buchi itu adalah istilah bagi perempuan yang berpenampilan laki-laki. Istilah itu sebutan untuk para lesbian. Selain Buchi ada juga Andro.

“Andro itu perempuan berambut panjang tapi berpenampilan laki-laki,” sahut Emil.

Lalu Emil masuk tipe mana? “Nah, itu dia, aku juga bingung masuk tipe mana. Soalnya aku sendiri bukan lesbi tulen. Aku cuma ikut-ikutan. Ada sih sebutan untuk perempuan yang asli berpenampilan cewek, yaitu Femme atau diambil dari kata feminim,” kata Emil.

Emil melanjutkan, selain Femme, ada juga sebutan lain untuk dirinya, yakni No Label. Artinya perempuan lesbi itu suka dengan cewek dan cowok. Boleh dibilang mereka yang mendapat sebutan itu termasuk Biseks.

“Aku masih normal kok. Soalnya aku juga suka ama cowok,” aku Emil yang tidak terima dirinya dicap sebagai lesbian.

Emil kemudian menceritakan pengalaman pahitnya ketika semua kenangan pahit itu bermula.

“Aku begini (suka sesama jenis-red) karena dulu pernah diperkosa perempuan,” kenang Emil sambil menghisap rokok Flava kegemarannya.

“Iya. Aku jadi seperti ini karena dulu pernah jadi korban perkosaan.”

Mulailah Emil bertutur:

Dasar kehidupan yang kejam, hal itu telah membuatku berubah 180 derajat. Ceritanya saat itu aku baru patah hati dengan seorang cowok. Cowok itu benar-benar membuatku jengkel. Setelah menguras isi dompetku, eh dia malah mengencani gadis lain. Memang dia tak pernah menyentuhku, tapi dia telah menodai hatiku hingga sakit sekali.

Saat itu aku baru lulus SMA. Kira-kira tahun 2008. Terus terang aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan hidupku. Akhirnya kuputuskan mengunjungi seorang sahabat di Jogja. Aku berharap di sana ada sesuatu pekerjaan yang dapat mengalihkanku dari rasa sakit hati.

Di Jogja aku bertemu dengan Marsya. Dia teman baikku. Tapi aku tidak menginap di rumahnya. Aku menginap di rumah saudaraku di Jalan Kaliurang di KM 7. Selama di Jogja pelan-pelan aku mulai dapat melupakan rasa sakitku. Aku memiliki banyak kegiatan.

Bertemu dengan orang-orang yang ramah dan sopan santun, membuatku dapat melupakan mantan kekasihku.

Marysa, temanku itu memiliki usaha tattoo. Dia pernah menjuarai beberapa festival kejuaraan tingkat nasional dengan karya-karyanya. Banyak karya yang dihasilkan Marysa.

Pokoknya, di sana kehadiranku disambut dengan baik. Aku bahkan dikenalkan dengan seorang teman wanita berparas laki-laki. Awalnya aku aneh melihat dandanan wanita itu. Rambutnya pendek dan jabrik. Dari sekujur tubuhnya tercium aroma khas laki-laki. Dia juga sering mengenakan sepatu boot. Celana jeans. Dan aksesoris laki-laki. Sekilas dia tak ubahnya laki-laki, padahal dia seorang perempuan.

Kami berkenalan. Dia bernama Yudit, seorang kepala dancer terkenal di kota tersebut. Yudit berasal dari Kupang, Nusa Tenggara Timur. Yudit orangnya supel. Baru kenal dia langsung menawarkanku tinggal di kosnya. Kupikir tak ada salahnya. Akhirnya aku boyongan dari rumah saudaraku.

Aku pindah ke kos Yudit yang terletak di tengah kota. Kos-kosan itu sangat mewah. Awal-awal kenal Yudit, dia sungguh perhatian dan memberiku banyak keistimewaan. Kulalui hari-hari dengan tawa dan canda.

Selama bersama Yudit, hampir tak pernah sekali pun aku melewatkan yang namanya dunia malam. Gemerlap malam dan alunan disko memecahkan gendang telinga. Kami bersenang-senang, apalagi saat itu Yudit bertugas bagai pengatur dancer di sebuah club malam. Jadi aku bisa keluar masuk seenaknya.

Setiap malam aku terbawa suasana. Mulailah aku mengenal yang namanya minuman beralkohol. Menikmati minuman keras meninggalkan sedikit kepenatan masalah. Namun demikian setelah itu aku merasakan kepalaku pening. Aku mulai tak bisa menjaga keseimbangan. Aku limbung. Beruntung saat itu ada Yudit yang langsung menangkapku. Aku dipapah pulang ke kos-kosan.

Dalam keadaan mabuk itu, Yudit tiba-tiba menghempaskan tubuhku ke tempat tidur. Antara setengah sadar dan tidak, Yudit mulai melepas satu persatu pakaian mini yang melekat pada tubuhku. Terus…dia mulai mencumbuiku dan terakhir menyetubuhiku.

Terus terang hatiku terkoyak sakit. Aku ingin sekali berontak, tapi sepertinya tubuhku terasa letih dan lemas untuk diajak kompromi. Dengan kegelisahan hati akhirnya kubiarkan Yudit mengoyak-ngoyak tubuhku.

Esoknya, aku terbangun dan merenungi kejadian semalam. Aku masih termenung melihat keadaan diriku. Kuambil sebatang rokok, menghisapnya dalam-dalam dan memutar otakku.

Dunia sungguh kejam terhadapku. Di saat kenyamanan dan ketenangan batin nyaris kurengkuh, aku kembali mendapatkan cobaan yang lebih ganas. Saat itu aku bertanya-tanya dalam hati, “Kejadian tadi malam, apa aku seorang LESBIAN?”

Otak kananku menjawab iya, sedang otak kiriku ngotot: oh tidak mungkin.

Di saat aku sedang gundah itu, kulihat seorang perempuan berpakaian minim yang sedikit menggugah hasratku. Perempuan itu seksi tapi dia tampan. Aromanya khas laki-laki. Itu Yudit. Aih, tak kusangka jika dia melepas celananya dan berpakaian minim, dia terlihat seksi. Yudit mendekatiku dan mencium bibirku.

“Kok begini,” kataku mereka-reka.

Kepada Yudit berkata, “Mil, kamu tenang saja. Aku akan bertanggung jawab,” katanya.

“Tanggung jawab apa. Bukankah kita…bagaimana kau bertanggung jawab, sampai kapan pun aku tak bisa hamil denganmu. Kau kan perempuan,” jawabku.

“Aku bertanggung jawab untuk menjagamu, karena aku mencintaimu,” balas Yudit.

“Apa???!!!”

Serasa mendengar suara gemuruh di langit, batinku langsung terkoyak-koyak. Aku…MENCINTAI PEREMPUAN. Bagaimana bisa?

Tak pernah kusangka ini akan menimpaku. Kukira Yudit mengatakan demikian karena dia menyesal atas perbuatannya, eh tapi malah berkata lain. Buru-buru aku berpikir, apakah yang kulakukan itu salah. Belum selesai kumendapat jawaban atas pertanyaanku, Yudit kembali mendaratkan ciumannya.

Diamku itu memang diartikan Yudit lain. Dikira aku juga senang menjadi lesbian. Akhirnya mau tak mau kuterima cinta Yudit, tentunya dengan penyesalan yang dalam. Selama bersama Yudit di Jogja, dia memperlakukanku dengan baik. Cara dia memperhatikanku, menyayangiku, sungguh membuat hatiku nyaman. Segala keperluanku dipenuhi Yudit. Mungkin karena itulah aku pelan-pelan ketertarikanku terhadap laki-laki mulai luntur.

Sering Didekati Lesbian

Tiga bulan bersama Yudit akhirnya kuputuskan untuk kembali ke Surabaya. Aku tidak tahan hidup dengan Yudit karena dia selalu berbohong. Bukan itu saja Yudit juga sering mengekang kehidupanku.

Ceritanya saat itu aku menjadi penari latar di suatu club malam. Aku begitu karena ingin mencari uang untuk pengobatan sahabatku Marya yang tengah sakit meregang nyawa. Ya, Marsya kuketahui ternyata mengalami overdosis. Padahal saat itu dia sedang mengandung.

Terang saja upayaku ini tidak mendapat restu dari Yudit. Aku ditampar keras sekali hingga pipiku memerah.

“Aku tak ingin kamu jadi penari,” bentak Yudit.

“Tapi aku butuh uang untuk membantu Marsya,” jawabku.

“Kamu kan tinggal bilang saja. Aku tidak mau sia-siakan hidupmu cuma untuk menari di muka umum,” kata Yudit geram.

Meski Yudit telah berjanji akan memberiku uang, tapi janji itu tinggal janji. Uang yang dijanjikan Yudit tak kunjung diberikan. Akibatnya Marsya tidak mendapat pelayanan dari rumah sakit. Tak lama Marsya pun meninggal bersamaan dengan janin yang dikandungnya.

Sejak itu aku mulai membenci Yudit. Menurutku, wanita itu tidak punya perasaan sedikit pun. Akhirnya kuputuskan utnuk meninggalkan kota Jogja untuk selam-lamanya. Awalnya aku sulit berpisah dengan Yudit. Bagaimana tidak, perempuan itu selalu menerorku. Telpon dan sms tidak henti-hentinya berbunyi. Kemudian kuputuskan begini, kuganti nomerku. Dan sejak itu aku pun lepas dari jeratan Yudit.

Selama dua bulan di Surabaya, kukira aku bisa terlepas dari bayang-bayang Yudit ternyata tidak. Memang benar aku bisa lepas dari Yudit, tapi akibat perbuatannya itu aku mulai menjadi pecinta sesama jenis.

Tiap kali melihat laki-laki, entah kenapa aku tidak ngeh. Memang sih aku masih suka laki-laki tapi laki-laki yang benar-benar kucinta. Dan itu sulit didapat. Banyak laki-laki mendekatiku, tapi semua kutolak. Kasihan mereka. Bukan maksudku begitu. Cuma kenyataannya aku bukan lagi seperti itu.

Ceritanya saat itu aku bertemu dengan seorang laki-laki tampan, pengusaha dari Bali. Kulalui kisah cintaku dengannya dan kutinggalkan kebiasaan burukku.

Saat berjalan dengannya mendadak ada wanita yang menyapaku dengan tidak wajar, menciumku dan memeluk mesra diriku di depan laki-laki tersebut. Terang saja dia mencium gelagat tidak sedap. Berkata dia kepadaku, “Apa kamu seorang lesbian?”

“Lesbian, ah kamu bercanda,” bantahku.

“Tapi mengapa banyak wanita yang bersikap tidak wajar denganmu,” sanggahnya.

Aku tak bisa berkata apa-apa. Tak lama setelah kejadian itu dia mulai menjauhiku dan memberi ultimatum agar aku berubah.

Yah, rupanya aku belum sembuh. Akibat disetubuhi Yudit, entah kenapa sikapku menjadi lain terhadap pria. Justru setiap kali melihat perempuan yang seksi dan bahenol, hasratku naik dan ingin sekali bercinta dengannya. Akhirnya pelan-pelan kucoba untuk menghibur diri, tentunya dengan sesama wanita di sekitarku.

Apalagi saat itu aku sedang mengalami kesedihan mendalam. Mamaku meninggal dunia. Mungkin karena tidak tahan dengan sikapku. Sejak kepergian mama, emosiku tidak terkontrol. Beruntung saat itu aku memiliki seorang perempuan yang selalu menjagaku sejak kepergian mama.

Panggilannya Rabit. Betapa sayangnya dia terhadapku, sampai-sampai dia tak rela melepaskanku. Rabit adalah perempuan lesbi. Kami sudah mengenal cukup lama. Pertama bertemu dulu, dia langsung menembakku. Aku tidak tahu mengapa itu bisa terjadi. Dimana-dimana aku selalu didekati wanita lesbi. Malah sebelum dengan Rabit, aku pernah juga didekati wanita lesbi keturunan. Dia bercerita kalau tertarik denganku. Bahkan dia rela membayarku berapa saja agar dapat tidur dengannya.

Huh, tawaran yang menggiurkan, pikirku.

Tapi aku tak bisa begitu saja menerima tawaran itu. Aku memang lesbi, tapi aku juga butuh perhatian dan tidak sekedarnya menyukai sesama jenis. Aku suka dengan laki-laki, tapi aku lebih suka perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh se-kaumku.

Yah, akhirnya pilihanku jatuh pada Rabit. Kulalui kisah sedih, duka, senang dan susah bersamanya. Saat itu aku merasakan seperti bangkit dari kematian. Bersama Rabit aku benar-benar menemukan cintaku yang hilang.

Namun demikian, lama-lama kurasakan hidup bersama Rabit membosankan juga. Terus terang bersama Rabit, kami sering melakukan hubungan intim. Tapi sekali lagi, masalah demi masalah kerap muncul dalam hubungan kami.

Kukira, aku memang tidak cocok menjadi lesbian. Hati kecilku berkata, aku harus berhenti, sementara kulihat usiaku pun semakin menua.

Setiap hari yang kupikir adalah cara menghindari dunia yang konyol ini, namun sekali lagi setan terus berbisik ke hatiku. Kata setan begini, “Terlalu banyak yang kau korbankan. Sayang sekali jika kau berhenti sampai di sini,” bisik setan.

Jika, kupikir-pikir memang sayang, apalagi perhatian Rabit terhadapku sangat besar, dari mulai menjaga hingga menemaniku di setiap kota yang ingin kusinggahi. Cara dia merawatku juga seperti mama. Dan selama ini mamaku hanya tahu jika Rabit adalah sahabat baruku, tidak lebih.

Terus terang banyak hal yang aku pertimbangkan dan bingungkan. Beberapa orang mengingatkanku untuk kembali ke jalan yang benar. Kulalui hariku dengan kegalauhan dan hanya dapat berdoa, “Tuhan, tolonglah hambamu ini, berikan jalan terbaik jika menurutmu itu yang terbaik”.

Sampai sekarang aku masih belum teguh pada pendirianku karena di sisi lain aku takut kehilangan Rabit. Hanya dia yang aku miliki setelah kepergian mama. Karena dia pula aku dapat bertahan sejauh ini. Meninggalkan dunia malamku dan menjauhi segala aktifitasku yang kurang baik.

Rabit pula yang memotivasiku untuk melanjutkan kuliah. Oh Tuhan.. teruslah beri petunjuk pada hambaMu ini, hanya itu yang bisa kulakukan setiap kali memanjatkan doa kepadaMu.

Terkadang terbesit di otakku terserah apa kata orang seperti apa diriku ini, karena mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada diriku.

Seorang lesbian memanglah seorang lesbian, namun kau tidak tahu bagaimana asal dia menjadi lesbian. Demikian pengakuan seorang lesbian pada SICOM yang kemudian ditutup dengan perpisahan.
Itil Video Tutorial